**2.56** Dia yang pikirannya tidak terguncang saat menghadapi duka, yang tidak memiliki kerinduan akan kesenangan, dan yang sepenuhnya bebas dari keterikatan, ketakutan, dan kemarahan—orang bijak yang kontemplatif seperti itu disebut sebagai seorang bijak dengan kebijaksanaan yang mantap.
**Komentar:** [Arjuna telah bertanya tentang *tindakan* seseorang dengan kebijaksanaan yang mantap, namun Sri Bhagavan menjawab dengan menekankan *sikap batin*, karena sikap batin itulah yang utama dalam segala tindakan. Tindakan dilakukan berdasarkan sikap batin. Ketika sikap batin berubah, tindakan pun berubah—artinya, sekalipun suatu tindakan terlihat sama secara lahiriah, pada hakikatnya ia tidak sama. Inilah sikap batin yang disampaikan oleh Sri Bhagavan di sini.]
**'duḥkheṣhv-anudvigna-manāḥ'** — Bahkan ketika duka diantisipasi atau benar-benar menimpanya, pikirannya tidak terguncang. Artinya, bahkan ketika hambatan muncul saat menjalankan kewajiban—seperti rintangan dalam pekerjaan, kritik, penghinaan, atau hasil yang tidak menguntungkan—pikirannya tetap tenang.
Alasan pikiran seorang Karma Yogi bebas dari keguncangan dan gejolak adalah ini: kewajiban utamanya adalah bertindak untuk kesejahteraan makhluk lain, melaksanakan tindakan dengan tuntas, dan tetap waspada agar tidak timbul keterikatan, rasa kepemilikan, atau keinginan akan hasil dari tindakan-tindakan tersebut. Dengan demikian, rasa kepuasan batin tetap ada dalam dirinya. Karena kepuasan batin inilah, betapapun banyak kesulitan yang datang, pikirannya tidak terguncang.
**'sukheṣhu vigata-spṛihaḥ'** — Bahkan ketika kesenangan diantisipasi atau benar-benar diperoleh, ia tidak memiliki kerinduan padanya. Artinya, bahkan ketika keadaan yang menguntungkan muncul—seperti pekerjaan yang diselesaikan dengan sempurna, menerima penghormatan dan pujian segera, atau memperoleh hasil yang baik—pikirannya tidak menyimpan kerinduan bahwa "keadaan ini harus tetap begini; semoga keadaan yang menguntungkan ini selalu berlanjut." Kondisi yang menguntungkan seperti itu sama sekali tidak berpengaruh pada keberadaan batinnya.
**'vīta-rāga-bhaya-krodhaḥ'** — Pewarnaan pikiran oleh objek-objek duniawi disebut 'keterikatan' (rāga). Ketika ada keterikatan pada objek, jika seorang yang berkuasa menghancurkan objek-objek itu, memutus hubungan dengannya, atau menciptakan hambatan dalam memperolehnya, maka 'ketakutan' muncul dalam pikiran. Jika orang itu lemah, maka 'kemarahan' muncul dalam pikiran. Namun, ketika sikap batin untuk memberikan kebahagiaan kepada makhluk lain, berbuat baik bagi mereka, dan melayani mereka menjadi bangkit dalam diri seseorang, keterikatannya secara alami lenyap. Dengan lenyapnya keterikatan, ketakutan dan kemarahan juga berhenti. Dengan demikian, ia menjadi sepenuhnya bebas dari keterikatan, ketakutan, dan kemarahan.
Selama keguncangan, kerinduan, keterikatan, ketakutan, dan kemarahan masih tersisa sampai tingkat tertentu, ia adalah seorang *sādhaka* (penempuh jalan spiritual). Ketika ia menjadi sepenuhnya bebas dari hal-hal ini, ia menjadi *siddha* (yang telah sempurna/tercapai).
[Keinginan, kerinduan, dan sebagainya, pada hakikatnya semua adalah bentuk-bentuk dari keterikatan saja. Mereka diberi nama berbeda hanya karena gradasi yang halus. Misalnya, keterikatan laten yang bersemayam dalam batin disebut *'vāsanā'* (kecenderungan laten). Nama lain untuk *vāsanā* yang sama adalah *'āśakti'* (kemelekatan) dan *'priyatā'* (kesukaan). Keinginan "Semoga aku memperoleh objek itu" disebut *'kāmanā'* (nafsu keinginan). Antisipasi terpenuhinya keinginan itu disebut *'āśā'* (harapan). Bahkan setelah suatu keinginan terpenuhi, keinginan agar objek-objek itu bertambah atau agar lebih banyak objek yang diperoleh disebut *'lobha'* (keserakahan). Ketika intensitas keserakahan meningkat sangat besar, itu disebut *'tṛiṣhṇā'* (dahaga yang tak terpuaskan). Intinya adalah tarikan terhadap objek-objek ciptaan yang fana, anggapan akan keunggulan dan pentingnya mereka—hanya itulah yang dirujuk dengan nama-nama seperti *vāsanā*, *kāmanā*, dan sebagainya.]
**'sthita-dhīr munir uchyate'** — Intelek dari seorang Karma Yogi yang kontemplatif seperti itu menjadi mantap dan tak tergoyahkan. Istilah *'muni'* (orang bijak/pertapa) secara etimologis berlaku untuk ucapan, itulah mengapa Sri Bhagavan menggunakan kata *'muni'* sebagai jawaban atas pertanyaan "Bagaimana ia berbicara?" (2.54). Namun, pada kenyataannya, istilah *'muni'* tidak terbatas hanya pada ucapan. Inilah sebabnya, dalam bab ketujuh belas, Sri Bhagavan menggunakan kata *'mauna'* (kesunyian/keheningan) dalam konteks tapa batin, bukan tapa ucapan (17.16). Karena ini adalah bagian tentang Karma Yoga, sang Karma Yogi yang kontemplatif disebut *'muni'* di sini. 'Kekontemplatifan' berarti perenungan terus-menerus dengan kewaspadaan, agar tidak timbul keinginan atau keterikatan dalam pikiran. Untuk tetap terus-menerus tak terikat adalah kewaspadaan seorang Karma Yogi yang telah sempurna; karena pada tahap awal sebagai seorang penempuh, ia menjaga kewaspadaan seperti itu (Gita 3.19), dan melalui ini sajalah ia telah mencapai Kebenaran Tertinggi.
★🔗