**Terjemahan Komentar Bhagavad Gita (Bab 2, Ayat 43) ke dalam Bahasa Indonesia:**
Wahai Arjuna! Mereka yang tenggelam dalam keinginan, yang menganggap surga semata sebagai tujuan tertinggi, yang bergembira dalam tindakan-tindakan yang digerakkan oleh keinginan sebagaimana tercantum dalam Weda, dan yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di balik kenikmatan—orang-orang yang tak bijaksana demikian mengucapkan kata-kata indah nan merdu ini, yang menghasilkan buah perbuatan berupa kelahiran kembali dan yang menggambarkan berbagai ritual untuk mencapai kenikmatan dan kemakmuran.
**Komentar:**
*‘Kāmātmānaḥ’* — Mereka begitu larut dalam keinginan sehingga menjadi keinginan itu sendiri. Mereka tidak melihat perbedaan antara diri mereka dengan keinginan. Keyakinan mereka adalah bahwa tanpa keinginan, seseorang tidak dapat hidup, tidak ada karya yang dapat diselesaikan, dan tanpa keinginan, seseorang menjadi seperti batu tak bernyawa, tanpa kesadaran. Orang-orang seperti itulah *‘kāmātmānaḥ’* (teridentifikasi dengan keinginan).
Sang Diri tetap konstan selamanya, tanpa bertambah atau berkurang, tetapi keinginan datang dan pergi, menguat dan melemah. Sang Diri adalah percikan dari Tuhan Yang Maha Tinggi, sedangkan keinginan berkaitan dengan bagian dari dunia material. Dengan demikian, Sang Diri dan keinginan adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Namun, mereka yang tenggelam dalam keinginan tidak memiliki kesadaran akan hakikat sejati mereka yang terpisah.
*‘Svargaparāḥ’* — Di surga, kenikmatan surgawi yang paling utama dapat dicapai; oleh karena itu, surga saja menjadi tujuan tertinggi mereka, dan mereka terus-menerus siang dan malam berjuang untuk mencapainya.
Di sini, istilah *‘svargaparāḥ’* merujuk pada manusia-manusia yang memiliki keyakinan pada alam surga dan alam-alam lain yang digambarkan dalam Weda dan kitab suci.
*‘Vedavāda-ratāḥ pārtha nānyad astīti vādinaḥ’* — Mereka bergembira dalam tindakan-tindakan yang digerakkan oleh keinginan yang disebutkan dalam Weda, artinya mereka menafsirkan maksud Weda semata-mata dalam hal kenikmatan dan pencapaian surga; maka mereka disebut *‘vedavāda-ratāḥ’* (terikat pada bagian-bagian ritualistik Weda). Dalam pandangan mereka, tidak ada sesuatu pun di luar kenikmatan dunia ini dan surga; artinya, di mata mereka, tidak ada yang ada selain kenikmatan—bukan Tuhan, bukan pengetahuan Diri, bukan pembebasan, bukan cinta ilahi. Oleh karena itu, mereka tetap sepenuhnya terserap dalam kenikmatan. Menuruti kesenangan adalah tujuan utama mereka.
*‘Yām imāṁ puṣpitāṁ vācaṁ pravadanty avipaścitaḥ’* — Orang-orang yang tak bijaksana itu, yang tidak memiliki kebijaksanaan untuk membedakan yang nyata dan yang tidak nyata, yang kekal dan yang sementara, yang tak termusnahkan dan yang dapat musnah, mengucapkan kata-kata merdu Weda ini, yang menggambarkan kehidupan duniawi dan kenikmatan.
Di sini, implikasi dari istilah *‘puṣpitām’* (berbunga/merdu) adalah bahwa uraian tentang pencapaian kenikmatan dan kemakmuran hanyalah bunga dan daun, bukan buah. Kepuasan hanya datang dari buah, bukan dari keindahan bunga dan daun. Ucapan itu tidak menghasilkan buah yang abadi. Buah dari ucapan itu—kenikmatan surga, dll.—hanya tampak indah dipandang; ia tidak memiliki keabadian.
*‘Janmakarmaphalapradām’* — Ucapan merdu itu menghasilkan buah perbuatan berupa kelahiran kembali; karena ia hanya memberi penting pada kenikmatan duniawi. Keterikatan pada kenikmatan-kenikmatan itulah penyebab kelahiran-kelahiran di masa depan (Gita 13.21).
*‘Kriyā-viśeṣa-bahulāṁ bhogaiśvarya-gatiṁ prati’* — Ucapan merdu, yakni yang menarik secara lahiriah, yang menggambarkan tata-cara yang digerakkan keinginan untuk mencapai kenikmatan dan kemakmuran, penuh dengan berbagai ritual. Artinya, tata-cara tersebut melibatkan banyak jenis prosedur, banyak jenis tindakan yang harus dilakukan, memerlukan banyak jenis bahan, dan juga membutuhkan tenaga fisik yang cukup besar, dan sebagainya (Gita 18.24).
★🔗