BG 2.60 — Sankhya Yoga
BG 2.60📚 Go to Chapter 2
यततोह्यपिकौन्तेयपुरुषस्यविपश्चितः|इन्द्रियाणिप्रमाथीनिहरन्तिप्रसभंमनः||२-६०||
yatato hyapi kaunteya puruṣasya vipaścitaḥ . indriyāṇi pramāthīni haranti prasabhaṃ manaḥ ||2-60||
यततो: of the striving | ह्यपि: indeed | कौन्तेय: O Kaunteya (son of Kunti) | पुरुषस्य: of man | विपश्चितः: (of the) wise | इन्द्रियाणि: the senses | प्रमाथीनि: turbulent | हरन्ति: carry away | प्रसभं: violently | मनः: the mind
GitaCentral Bahasa Indonesia
Wahai Kuntiputra! Indria-indria yang bergolak itu dengan paksa merampas pikiran seorang bijak yang sedang berusaha sekalipun.
🙋 Bahasa Indonesia Commentary
Arti kata: Yatatah - yang berusaha, hi - sesungguhnya, api - meskipun, Kaunteya - wahai putra Kunti, purusasya - manusia, vipascitah - orang bijak, indriyani - indra-indra, pramathini - bergejolak, haranti - merampas, prasabham - dengan paksa, manah - pikiran. Penjelasan: Seorang aspiran harus terlebih dahulu mengendalikan indranya. Indra itu seperti kuda. Jika Anda menjaga kuda-kuda itu di bawah kendali sempurna, Anda dapat mencapai tujuan dengan selamat. Kuda yang bergejolak akan menjatuhkan Anda di tengah jalan. Begitu pula, indra yang bergejolak akan menyeret Anda ke dalam objek-objek duniawi dan Anda tidak akan bisa mencapai tujuan spiritual Anda, yaitu Param Dhama, tempat kediaman kedamaian abadi dan keabadian, atau Moksha.
English
Swami Gambirananda
Swami Adidevananda
Hindi
Swami Ramsukhdas
Sanskrit
Sri Ramanuja
Sri Madhavacharya
Sri Anandgiri
Sri Jayatirtha
Sri Abhinav Gupta
Sri Madhusudan Saraswati
Sri Sridhara Swami
Sri Dhanpati
Vedantadeshikacharya Venkatanatha
Sri Purushottamji
Sri Neelkanth
Sri Vallabhacharya
Detailed Commentary
**2.60:** Wahai putra Kunti, indria-indria yang bergolak itu dengan paksa melarikan pikiran bahkan dari seorang bijak yang sedang berusaha. **Tafsiran:** Frasa "seorang bijak yang sedang berusaha" merujuk pada seseorang yang sendiri melakukan usaha, melaksanakan disiplin spiritual (sadhana), melakukan setiap tindakan dengan kebijaksanaan (viveka), melepaskan keterikatan dan keinginan akan hasil, menjaga perasaan agar orang lain dapat memperoleh manfaat, dapat mencapai kebahagiaan, dapat mengalami kesejahteraan—dan juga bertindak sesuai dengan itu; yang sendiri mengetahui kewajiban (dharma) dan bukan kewajiban (adharma), hakikat (tattva) dan bukan hakikat; dan yang juga mengetahui hasil apa yang timbul dari melakukan tindakan tertentu. Bahkan bagi seorang yang terpelajar dan berusaha seperti itu, indria-indria yang bergolak itu dengan paksa melarikan pikirannya—mereka menariknya ke arah objek-objek indria, artinya ia terbawa, tertarik, kepada objek-objek indria. Penyebabnya adalah selama kecerdasan (buddhi) belum sepenuhnya teguh (tertanam) dalam Realitas Tertinggi (Paramartha Tattva), selama bahkan secercah realitas duniawi masih tersisa dalam kecerdasan, selama kenikmatan muncul dari kontak antara indria dan objeknya, dan selama kesan-kesan (samskara) dari kenikmatan yang pernah dialami masih bertahan, maka hingga saat itu indria-indria dari seseorang yang berusaha, cerdas, dan penuh kebijaksanaan pun belum sepenuhnya terkendali. Ketika objek-objek indria muncul di hadapannya, karena kesan-kesan dari kenikmatan masa lalu, indria-indria itu dengan paksa menyeret pikiran dan kecerdasan ke arah objek-objek tersebut. Ada juga banyak contoh para resi (maharishi) yang menjadi gelisah ketika objek-objek indria muncul di hadapan mereka. Oleh karena itu, seorang pencari (sadhaka) tidak boleh pernah percaya, "Indriaku telah terkendali," dan tidak boleh pernah sombong dengan berpikir, "Aku telah menaklukkan indriaku." **Keterkaitan:** Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa karena adanya rasa (raga, keterikatan), indria-indria bahkan dari seorang bijak yang berusaha dapat melarikan pikirannya, menghalangi kecerdasannya untuk teguh dalam Tuhan. Oleh karena itu, metode untuk menghilangkan rasa (keterikatan) ini dijelaskan dalam ayat berikutnya.