Kemudian, untuk menyenangkan hati Duryodhana, kakek buyut para Kuru yang terhormat, Bhishma yang perkasa, mengaum seperti singa dan meniup sangkakalanya dengan nyaring.
Komentar: 'Menyenangkan hatinya' — Meskipun peniupan sangkakala adalah sebab dan kegembiraan di hati Duryodhana adalah akibat, sehingga seharusnya deskripsi bunyi sangkakala disebutkan lebih dulu baru kemudian kegembiraannya (yaitu seharusnya dikatakan, 'Dengan meniup sangkakala, ia menyenangkan Duryodhana'), di sini tidak dinyatakan demikian. Sebaliknya, dikatakan, 'Menyenangkan Duryodhana, Bhishma meniup sangkakala.' Dengan mengatakan ini, Sanjaya mengungkapkan sentimen bahwa hanya dengan tindakan Bhishma meniup sangkakalanya, kegembiraan pasti akan muncul di hati Duryodhana. Tepat untuk menunjukkan pengaruh Bhishma inilah Sanjaya kemudian menggunakan sebutan 'perkasa'.
'Kakek buyut para Kuru yang terhormat' — Meskipun dalam garis keturunan Kuru, dari segi usia, Bahlik lebih tua dari Bhishma (ia adalah adik laki-laki ayah Bhishma, Shantanu), di antara semua sesepuh klan Kuru, Bhishmalah yang paling mendalam pengetahuannya tentang dharma dan Tuhan. Oleh karena itu, karena kebijaksanaan dan senioritasnya, Sanjaya menggunakan sebutan 'kakek buyut para Kuru yang terhormat' untuk Bhishma.
'Perkasa' — Pelepasan duniawi Bhishma memiliki dampak yang besar. Ia adalah seorang yang telah melepaskan kekayaan dan keinginan, artinya ia tidak menerima takhta maupun menikah. Bhishma sangat mahir dalam menggunakan senjata dan juga seorang yang sangat menguasai kitab suci. Kedua sifatnya ini memiliki pengaruh yang mendalam pada orang-orang.
Ketika Bhishma sendiri membawa putri-putri Raja Kashi dari *swayamwara* mereka untuk saudaranya, Wicitrawirya, semua Ksatria yang berkumpul untuk *swayamwara* itu menyerangnya. Namun, Bhishma sendiri mengalahkan mereka semua. Bahkan di hadapan gurunya sendiri, Parasurama, dari siapa Bhishma mempelajari ilmu senjata, ia tidak menerima kekalahan. Dengan demikian, dalam hal ilmu senjata, pengaruhnya atas para Ksatria sangatlah besar.
Ketika Bhishma terbaring di ranah panah, Tuhan Shri Krishna berkata kepada Dharmaraja (Yudistira), 'Jika engkau memiliki keraguan mengenai dharma, tanyakanlah pada Bhishma; karena matahari pengetahuan kitab suci sedang terbenam, artinya Bhishma akan meninggalkan dunia ini.' Dengan demikian, dalam hal kitab suci, pengaruhnya atas orang lain juga sangat besar.
Istilah 'kakek buyut' mengisyaratkan bahwa Dronacharya tidak memberikan jawaban atas kata-kata licik yang diucapkan Duryodhana. Ia memahami bahwa Duryodhana ingin menipunya dengan kelicikan sehingga ia diam saja. Namun, sebagai seorang kakek buyut, Bhishma dapat melihat sifat kekanak-kanakan di balik kelicikan Duryodhana. Oleh karena itu, tidak seperti Dronacharya, Kakek Buyut Bhishma, karena kasih sayang kebapakan, meniup sangkakalanya untuk menyenangkan Duryodhana.
'Mengaum seperti singa dan meniup sangkakalanya dengan nyaring' — Sebagaimana saat singa mengaum, bahkan hewan besar seperti gajah menjadi ketakutan, demikian pula, hanya dengan mengaum saja, semua akan menjadi takut dan Duryodhana akan menjadi gembira. Dengan sentimen inilah Bhishma, mengaum bagaikan singa, meniup sangkakalanya dengan penuh kekuatan.
Keterkaitan — Sanjaya menjelaskan dalam ayat berikutnya apa yang terjadi akibat Kakek Buyut Bhishma meniup sangkakalanya.
★🔗