**1.19.** Gema dahsyat sangkakala bala Pāṇḍava itu, menggema di langit dan bumi, menembus hati Duryodhana dan segenap pengikutnya, yang telah merebut kerajaan secara tidak adil.
**Komentar:** Suara sangkakala bala Pāṇḍava sedemikian luas, dalam, tinggi, dan dahsyatnya, sehingga ruang antara bumi dan langit bergema karenanya. Suara itu menembus hati mereka yang telah merebut kerajaan secara tidak adil dan para raja yang berdiri mendukung mereka. Maknanya, rasa sakit yang ditimbulkan suara sangkakala itu di dalam hati mereka serupa dengan rasa sakit yang disebabkan oleh senjata. Suara sangkakala itu melemahkan semangat dan kekuatan untuk bertempur di dalam hati bala tentara Kaurava, menumbuhkan rasa takut terhadap bala Pāṇḍava di dalam sanubari mereka.
Sañjaya menuturkan hal-hal ini kepada Dhṛtarāṣṭra. Tampaknya tidaklah santun dan pantas jika Sañjaya berkata di hadapan Dhṛtarāṣṭra bahwa "hati putra-putra atau sanak saudara Dhṛtarāṣṭra tertembus." Oleh karena itu, alih-alih menyebut 'para Dhārtarāṣṭra', seharusnya ia mengatakan 'putra-putra atau sanak saudaramu' (tāvakīnām), karena hanya itulah yang santun. Dari sudut pandang ini, adalah masuk akal dan santun untuk mengambil makna istilah 'Dhārtarāṣṭrāṇām' di sini sebagai 'mereka yang telah secara tidak adil mempertahankan kerajaan'. Pengambilan makna ini juga tampak masuk akal dari sudut pandang bahwa hati mereka tertembus justru karena mereka memihak pada ketidakadilan.
Di sini timbul keraguan: Alat-alat seperti sangkakala bala tentara Kaurava yang berjumlah sebelas akṣauhiṇī sama sekali tidak berpengaruh pada bala Pāṇḍava, namun ketika sangkakala bala Pāṇḍava yang berjumlah tujuh akṣauhiṇī berbunyi, mengapa hati bala tentara Kaurava tertembus oleh suaranya? Penyelesaiannya adalah ini: Hati mereka yang di dalamnya tidak ada ketidakbenaran, dosa, atau ketidakadilan—yakni mereka yang menjalankan kewajibannya dengan penuh kebenaran—adalah kuat; tidak ada ketakutan di dalam hati mereka. Berada di pihak kebenaran memberi mereka semangat dan keberanian. Para Pāṇḍava telah memerintah dengan benar bahkan sebelum pengasingan mereka, dan setelah pengasingan, mereka telah meminta kerajaan mereka dari para Kaurava sesuai perjanjian dengan cara yang benar. Karenanya, tidak ada ketakutan di dalam hati mereka; justru ada semangat dan keberanian. Maknanya, pihak Pāṇḍava adalah pihak dharma. Karena alasan ini, suara alat-alat perang bala tentara Kaurava yang berjumlah sebelas akṣauhiṇī tidak berpengaruh pada bala Pāṇḍava. Namun, hati mereka yang melakukan ketidakbenaran, dosa, ketidakadilan, dan sejenisnya, secara alami lemah. Ketakutan dan keraguan tidak lagi tinggal di dalam hati mereka. Dosa dan ketidakadilan yang mereka lakukan sendiri telah membuat hati mereka lemah. Ketidakbenaran melahap orang yang tidak benar. Duryodhana dan lainnya telah melakukan banyak upaya untuk membunuh para Pāṇḍava secara tidak adil. Mereka telah merebut kerajaan Pāṇḍava dengan licik dan tidak adil serta menyebabkan penderitaan besar. Karena alasan ini, hati mereka telah menjadi lemah dan rapuh. Maknanya, pihak Kaurava adalah pihak adharma. Oleh karena itu, suara sangkakala bala Pāṇḍava yang berjumlah tujuh akṣauhiṇī menembus hati mereka, menyebabkan mereka kesakitan yang hebat.
Dari konteks ini, sang sādhaka harus diperingatkan bahwa melalui tubuh, ucapan, dan pikirannya, ia tidak boleh sekali-kali terlibat dalam perilaku apa pun yang melibatkan ketidakadilan dan ketidakbenaran. Perilaku yang dipenuhi ketidakadilan dan ketidakbenaran membuat hati seseorang lemah dan rapuh. Rasa takut muncul di dalam hatinya. Sebagai contoh, tiga dunia takut pada Rāvaṇa, penguasa Lanka. Namun Rāvaṇa yang sama, ketika pergi untuk menculik Sītā, melihat ke sekeliling dengan ketakutan. Oleh karena itu, sang sādhaka tidak boleh sekali-kali terlibat dalam perilaku yang melibatkan ketidakadilan dan ketidakbenaran.
**Keterkaitan:** Dalam ayat pertama, Dhṛtarāṣṭra bertanya tentang putra-putranya sendiri dan putra-putra Pāṇḍu. Sañjaya memberikan jawaban atas pertanyaan itu dari ayat kedua hingga ayat kesembilan belas ini. Sekarang, mulai ayat berikutnya, Sañjaya memulai konteks perwujudan Bhagavad Gītā.
★🔗